Jumat, 26 Maret 2010

Tips Don't

Don’t :

Agar padu padan dalam berbatik terlihat serasi,anda perlu menghindari hal-hal berikut ini:

  1. Hindari pola cutting terbuka untuk acara kekantor.
  2. Hindari motif batik yang besar dan mencolok bagi yang berbadan besar.
  3. Bagi yang berkulit putih,hindari pemakaian batik yang bermotif cerah karena tampak kurang elegan
  4. Bagi anda yang mengenakan jilbab,tidak perlu menggunakan kerudung bermotif batik jika sudah memakai baju motif batik.
  5. Bagi yang ingin kelihatan dewasa dan elegant hindari motif batik cerah.
  6. Hindari model kerah menggelembung bagi yang memiliki leher pendek yang akan memberi kesan leher anda semakin pendek.
  7. Untuk pria,sebaiknya hindari baju batik berlengan pendek pada acara formal
  8. Jika memiliki dada besar,hindari motif batik besar dan berkerut pada bagian dada. Ini memberi kesarn dada semakin penuh.
  9. Hindari pemakaian aksesories yang berlebihan karena menghilangkan kesan elegan batik anda.

Tips DO

Do :

Lakukan hal-hal berikut ini agar tampilan Anda selaras dengan menggunakan batik
  1. Pilih mode batik yang sesuai dengan acara formal,kasual,ke kantor,berbelanja,atau acara keluarga.
  2. Sebaiknya,padu padankan motif batik dengan padanan yang berdetail ringan (warna polos dan cutting yang simple) untuk mendapatkan tampilan yang seimbang.
  3. Gunakan aksesori yang berwarna senada dengan batik.
  4. Kenakan aksesori simple untuk anda yang beraktifitas tinggi
  5. Motif batik dapat dipadukan dengan motif lurik atau kotak-kotak
  6. Bagi yang memiliki leher jenjang,coba pakai kerah mandarin agar leher anda semakin terliat mempesona
  7. Bukan suatu masala memadankan dua motif batik dalam satu padanan. Carilah warna yang senada dengan motif yang hampir serupa
  8. Baju batik dapat dipadupadankan dengan rok maupun celana jeans.
  9. Bagi pria,gunakan motif dan warna simpel untuk acara formal.
  10. Pria dapat memakai aksesori yang berbahan logam dan kulit untuk mempermanis penampilan.

Batik Belanda-Pengaruh Budaya Asing Terhadap Batik Nusantara

Batik Belanda merupakan jenis batik yang tumbuh dan berkembang antara 1840 – 1940. Kebanyakan dibuat di daerah pesisir,seperti Pekalongan,dengan pasar masyarakat Belanda dan Indo-Belanda. Kebanyakan berbentuk sarung,batik Belanda tampil dalam pola dan motif yang khas. Umumnya masuk pola buketan,dalam paduan aneka bunga yang dirangkai,dengan imbuhan ragam hias burung (terutama bangau,angsa,burung-burung kecil dan kupu-kupu), dalam warna cerah sesuai selera masyarakat Eropa.

Berbeda dari motif batik Indonesia lainnya yang umumnya diungkap dalam bentuk stilasi,motif pada batik Belanda hadir dalam bentuk nyata : Bunga,satwa,pesawat terbang,prajurit berbaris memanggul senjata,dan sebagainya. Bahkan banyak wastra batik Belanda yang menampilkan fragmen gambar dari dongeng-dongeng eropa seperti si Kopiah Merah,Putih Salju dan Hanzel dan Gretel. Beberapa wastra menghadirkan pengaruh budaya Cina,seperti pola Dewi Hsi Wang Mu,pola wayang bahkan adegan sirkus.
Dari sekedar memesan wastra batik kepada para perajin atau saudagar yang ada, belakangan batik Belanda dibuat sendiri oleh kalangan Belanda di Indonesia. Iwan Tirta dalam buku Batik, Sebuah Lakon,maupun Santosa H.Dullah dalam buku batik,”Pengaruh Zaman dan Lingkungan” menyebut Carolina Josephina von Franquemont sebagai pelopornya,yang mendirikan perusahaan batik di Surabaya tahun 1840 yang kemudian memindahkan usahanya ke Semarang. Ia terkenal dengan penemuan warna hijau dari zat warna nabati yang tahan luntur,zat yang kemudian dikenal sebagai hijau franquemont.
Iwan maupun Santosa juga menyebut pelopor lainnya,yakni Catharina Carolina van Oosterom, yang produk-produk batiknya dikenal sebagai batik Panastroman (dari kata van Oosterom),dibuat di Semarang,lalu pindah ke Banyumas dengan pola-pola yang banyak menampilkan pengaruh keraton.

Batik Pekalongan

Berbeda halnya dengan batik pekalongan,daerah pekalongan yang terletak di tepi laut atau pesisir utara Jawa Timur. Sebagai tempat perdagangan di daerah pekalongan perkembangan seni dan budaya terpengaruh dari budaya luar. Demikian juga halnya dengan perkembangan kain batik di daerah ini telah terjadi akulturasi budaya dari daerah lain.

Motif batik pekalongan banyak dipengaruhi dengan budaya Cina yang mempunyai corak atau gaya Cina. Motif-motif Cina jelas tergambar pada motif kain batik,diantaranya :

  • Liong yaitu motif yang berbentuk naga berkaki
  • Burung Phoenix yaitu motif yang berbentuk burung dengan bulu ekor dan sayap yang menjulur panjang

Disamping itu motif batik pekalongan bebas terlepas dari norma-norma atau adat istiadat,memenuhi selera pasar. Batik Pekalongan ini bisa kita kategorikan sebagai batik pesisir.

Batik Cirebon

Cirebon terletak di daerah pesisir Jawa Barat,kota madya ini terletak di pesisir pantai utara. Kota Cirebon ini pada zaman dahulu sebagai salah satu tempat pusat perdagangan di pesisir pantai utara Jawa. Sebagai salah satu tempat pusat perdagangan masyarakat Cirebon banyak terpengaruh dengan budaya yang masuk di daerahnya atau kita kenal dengan akulturasi budaya.

Demikian juga halnya dengan seni batik di daerah ini banyak terpengaruh dari budaya daerah lain. Diantara pengaruh-pengaruh itu adalah pengaruh dari budaya Islam,dapat kita lihat adanya motif-motif kaligrafi huruf arab,ragam hias buroq dsb. Disamping budaya Islam,pengaruh budaya Cina juga tampak muncul pada kerajinan seni batik di Cirebon.

Batik Banyumasan

Batik pengaruh keraton memadukan ragam hias utama batik keraton Mataram dengan ragam hias khas daerah setempat sebagai suatu susunan pola, yang kemudian berkembang sesuai selera masyarakatnya. Pengaruh ini sudah berlangsung sejak abad ke 17,saat Sultan Agung dari Mataram menguasai hampir seluruh Pulau Jawa,bahkan sampai Palembang dan Jambi di Sumatra,serta Banjarmasin di Kalimantan Selatan.

Seni dan budaya mataram termasuk wastra batik,tersebar luas di masa Sultan Agung. Tak cuma ke daerah sekitar Banyumas, tetapi juga hingga Madura. Pengaruh keraton pada batik Cirebon terjadi saat Sultan Agung memperistri putri Keraton Cirebon. Beberapa kawasan Jawa Barat saat itu juga jadi wilayah Mataram,hingga bisa dipahami bila pengaruh batik keraton juga sampai ke Garut.

Batik Pekalongan, antara Masa Lampau dan Kini

Batik Pekalongan, antara Masa Lampau dan Kini

BATIK pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik pekalongan dikerjakan di rumah-rumah.Akibatnya, batik pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Batik pekalongan adalah napas kehidupan sehari-sehari warga Pekalongan. Ia menghidupi dan dihidupi warga Pekalongan.

Meskipun demikian, sama dengan usaha kecil dan menengah lainnya di Indonesia, usaha batik pekalongan kini tengah menghadapi masa transisi. Perkembangan dunia yang semakin kompleks dan munculnya negara pesaing baru, seperti Vietnam, menantang industri batik pekalongan untuk segera mentransformasikan dirinya ke arah yang lebih modern.

Gagal melewati masa transisi ini, batik pekalongan mungkin hanya akan dikenang generasi mendatang lewat buku sejarah.Ketika itu, pola kerja tukang batik masih sangat dipengaruhi siklus pertanian. Saat berlangsung masa tanam atau masa panen padi, mereka sepenuhnya bekerja di sawah. Namun, di antara masa tanam dan masa panen, mereka bekerja sepenuhnya sebagai tukang batik.ZAMAN telah berubah. Pekerja batik di Pekalongan kini tidak lagi didominasi petani. Mereka kebanyakan berasal dari kalangan muda setempat yang ingin mencari nafkah. Hidup mereka mungkin sepenuhnya bergantung pada pekerjaan membatik.Apa yang dihadapi industri batik pekalongan saat ini mungkin adalah sama dengan persoalan yang dihadapi industri lainnya di Indonesia, terutama yang berbasis pada pengusaha kecil dan menengah.

Persoalan itu, antara lain, berupa menurunnya daya saing yang ditunjukkan dengan harga jual produk yang lebih tinggi dibanding harga jual produk sejenis yang dihasilkan negara lain. Padahal, kualitas produk yang dihasikan negara pesaing lebih baik dibanding produk pengusaha Indonesia.Penyebab persoalan ini bermacam-macam, mulai dari rendahnya produktivitas dan keterampilan pekerja, kurangnya inisiatif pengusaha untuk melakukan inovasi produk, hingga usangnya peralatan mesin pendukung proses produksi.